Malam itu berbeda bagi dia, saat ini dia masih terus
merasakan kehangatan malam itu. Dia disentuh dengan hangat, dia menutup mata
membiarkan akal dan perasaannya yang merasakan semuanya. Dimensinya berubah
seperti sesuatu yang tidak nyata, wajahnya tersentuh oleh garis garis kulit
telapak tangan yang sangat jelas terasa. Desahan nafas seolah bagaikan tiupan
angin dipadang hijau disertai guguran daun, sungguh terasa angin nafas itu,
menusuk hingga ubun ubun dan membuat dirinya hanya bisa terdiam,
termenung dalam kegelapan cahaya. Matanya tetap tertutup seolah olah dia masih
tertidur dengan lelap menikmati semua sentuhan itu.
Dia hanya diam, tetap menutup matanya, dia takut kalau
ternyata ketika dia membuka matanya, terbangun, dan seketika sadar kalau semua
itu hanya sebuah imajinasi tidur yang disebut mimpi.
“Buka, tidak, buka tidak”, batinnya terus bertanya. Disatu sisi
dia ingin mengetahui apakah ini memang sebuah kenyataan, kenyataan kalau dia
begitu dekat dengan orang yang dikagumi. Jemari itu sungguh nyata menyentuh
tiap inci mukanya, seakan akan signature dari jari itu sudah sangat bersahabat
dengan tubuhnya.

