Monday, 18 January 2016

What happened last two nights stays at that night

Shini seorang gadis berusia 24 tahun yang kini tinggal sendiri di ibu kota Jakarta. Sudah lama dia merasakan kesendirian, merasakan kesepian tanpa adanya cinta yang menemani. Apalagi yang kurang bagi dirinya untuk mendapatkan seorang pasangan? Dia lumayan cantik dengan wajah khas wanita indonesia, ditambah lagi dia seseorang yang pintar, dia juga tercatat sebagai salah satu karyawan di perusahan internasional.

Suatu hari dia latihan di tempat gym seperti biasa di daerah Thamrin. Awalnya tidak ada yang berbeda dengan hari itu, malam minggu yang dihabiskan di tempat Gym sendiri. Semuanya berubah dan menjadi spesial sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang pria bermata sipit. Seorang pria yang akhirnya diketahui berkewarganegaraan jepang. Awalnya Shini tidak merasakan apa-apa kepada pria itu, dia hanya tau kalau pria itu memang tampan dan cute dengan bentuk badan yang perfect bagi Shini, tidak terlalu berotot tapi tidak juga terlalu kurus. Tapi memang tidak ada yang spesial diawal, sampai suatu ketika mereka berada disuatu ruangan kecil saling mencoba menatap satu sama lain dengan tujuan menarik perhatian satu sama lain. Sebuah ketertarikan satu sama lain sudah terjadi. Namun mereka masih malu menunjukkan ketertarikan itu. Jelas saja mereka malu, masih banyak orang juga diruangan yang sempit itu. Merekapun belum berani menunjukkan rasa tertarik mereka dengan cara yang ekstrim.

Satu-persatu orangpun keluar meninggalkan ruangan itu, sampai hanya tersisa mereka berdua. Shini memberanikan diri untuk menegur duluan..
"Kamu sudah lama disini?" Tanya Shini..
Kalimat itu memperjelas bahwa Shini mengerti kalau pria itu sedang memperhatikannya dan berusaha menarik perhatian Shini, dan begitupun sebaliknya, dengan kalimat itu membuat pria bermata sipit itu langsung percaya diri kalau Shini memang juga tertarik pada dirinya.
Berjalanlah si pria tersebut dan duduk disamping Shini, sangat rapat, tanpa ada celah, nafas satu sama lain sampai bisa terdengar pada kuping masing-masing.

"Iya, sudah dua tahun saya disini" Jawab si pria itu dengan bahasa indonesia yang terbata-bata"
"Kamu kuliah?" Tanya Shini balik
"Tidak, saya kerja di Sudirman" dan selanjutnya si pria tersebut mencium Shini tepat di bibir.
Shini hanya diam tidak berkata-kata, dia hanya diam dan menikmati, karena sejujurnya dia sudah lama memimpikan sebuah ciuman dari seorang pria idaman, ditambah lagi ditengah kesendirian Shini yang sudah berabad-abad lamanya.

Ciuman mereka terus berlanjut, saling menikmati satu sama lain, sampai akhirnya mereka harus menyudahinya karena kedatangan beberapa orang keruangan kecil tersebut. Tidak ingin hanya berakhir disitu saja, Shini menanyakan nama pria itu,
"Nama kamu siapa?"
"Namaku Udo" Jawab si pria dengan terbata-bata kembali
"Kamu bukan orang indonesia yah?" Tanya Shini penasaran.
"Iya, saya dari Jepang"
"Sudah berapa lama disini?"
"Sudah 2 tahun"
"Aku boleh minta nimir HP kamu?" Minta Shini
"Iya boleh" Jawab Udo, si pria Jepang ini dengan senyuman yang manis.


Sesampainya di rumah, Shini tidak bisa tenang, pikirannya masih pada si pria Jepang itu. Hatinya berdebar. Sudah satu jam lebih dia di meja makan, namun makan malamnya belum habis-habis. Dia hanya terus kepikiran pria Jepang itu. Akhirnya dia putuskan untuk mengambil HP nya, menyoba untuk men-chat Udo melalui whatsapp.
"Hay Udo, ini gue Shini"
"Hai Shini"
"Did you like it?"
"Yes I did, hehehe"

....

"Are you single?"
"Yes, I am pretty sure I am single, how about you?
"Me too udo"


.....

Percakapan via whatsapp itu hanya berlangsung sampai tengah malam dan tidak adalagi balasan dari si pria Jepang itu. Sudah dua hari Shini menunggu balasan chat tersebut dari Udo, tapimasih tetap saja, tidak ada balasan dari pria itu.

Shini benar-benar jatuh cinta pada pria itu. Dia benar benar galau, dia menjadi tolol, tidak fokus melakukan sesuatu, ibarat gadis remaja SMA yang sedang jatuh cinta. Tapi kasihan si Shini, sepertinya si pria ini memang telah menghilang.
"What happened last two night stays at that night" Bisik hati kecil Shini si gadis malang.




cerita hanya fiktif belaka

Friday, 6 November 2015

Titik Dari Sebuah Harapan

Ketika mereka tidak lagi memiliki sebuah rumah dan harus merelakan kehilangan semua kenangannyapun disana. Kini mereka hanya tinggal di sebuah kontrakan petakan kecil untuk berlindung dari panasnya terik matahari dan dinginnya rintihan hujan. Sungguh kasihan kehidupan mereka, mencoba melanjutkan hidup demi sebuah harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa selanjutnya. 

Mereka sebenarnya telah terdampar jauh tanpa mengetahui arah jalan pulang. Semua harapan mereka hanya tertumpuh pada satu titik, titik yang sangat jauh. Mereka telah kalah dari kehidupan, terpuruk dari kenyataan, kalah oleh mimpi. Mereka bertanya apakah yang bisa mereka perbuat saat ini? Haruskah mereka dendam kepada sang kehidupan? Atau mereka harus ikhlas menerima kenyataan sang kehidupan?

Tidak, mereka masih punya sebuah titik, sebuah titik yang bergerak untuk mengumpulkan titik titik lainnya dan menjadi sebuah kesatuan yang indah. Mereka masih punya harapan, mereka masih bisa bermimpi kembali, mereka masih bisa tersenyum kelak. Tapi apakah titik kecil ini mampu? Mampu membuat sebuah cahaya sinar yang bisa menerangi semuanya?


Tuesday, 25 August 2015

Boys Play With Freshness


Kali ini bukan sebuah cerita yang ingin aku bagi, terlebih hanya sebuah pengalamanku dalam menghilangkan belenggu kepenatan hidup di ibu kota Jakarta bersama dengan kehidupan di dalamnya. Tidak selamanya harus pergi jauh untuk bisa bermain dengan alam. Di Jabodetabek juga masih menyimpan kekayaan alam itu, tapi apakah kamu tahu? Apakah mereka tahu di mana itu? Can boy still play with freshness around the big city?

Leuwi Hejo, Bogor

Matahari masih sunkan menunjukkan rupanya, warna si langit pagi pun masih malu-malu bagai warna merah muda di pipi ketika sedang bertemu dengan kekasih pujaan hati. Suasana di kereta kota yang baru saja meninggalkan Stasiun Gondangdia menuju Stasiun Bojong Gede pun masih sunyi. Sambil duduk aku membaca sebuah novel Jakarta Cafe, tapi apa daya perhatianku harus teralihkan kepada sinar matahari yang tembus melewati jendela kereta yang tepat berada di depanku. Ku merasakan pagi yang sangat hangat dan bersahabat. 

Saturday, 15 August 2015

Walking Under The Golden Sunrise



2015

Yogyakarta - Sukoharjo - Dieng


Emang karena dasarnya suka traveling kali yah, ketika dapat wedding invitation di Tanah Jawa Sukoharjo, benar-benar  aku manfaatkan. Ibarat kata "sekali dayung dua tiga pulau terlampaui" atau ngga "sekali menyelam minum air". Kayaknya sayang aja kalau seorang backpacker pergi jauh hanya untuk menghadiri sebuah pesta "Masa ke Sukoharjo doang, kemana setelah itu..?" Dataran tinggi Dieng yang terkenal dengan Golden Sunrise nya pun jadi pilihan. Sepertinya ceritaku akan seru jika bermain-main disana. Walking under the Golden Sunrise sounds nice. However I will stop by in Yogyakarta for awhile to play with my memories.

Melamun terkadang mengasyikan. Pandangan kosong dengan tangan yang terus mengaduk chocolate panas yang entah kapan akan diminum. Detik terus berputar, mataku masih terus memandang kosong menembus objek di luar kaca jendela cafe Sabang 16 tempatku nongkrong. Aku suka berada di tempat ini. Tempatnya sangat tenang. Walau banyak orang, tetapi suasananya tetap nyaman dan yang paling penting, aku bisa merasakan kesendirianku disini. 

Friday, 14 August 2015

Splendour of Bromo



Banyak tempat yang ingin terus aku jelajahi, bagiku diam bukanlah hal yang menyenangkan. kemana lagi aku selanjutnya, udara pagi mana lagi yang ingin kurasakan? Cerita seru apa lagi yang ingin aku ceritakan kelak?....

Alarm berbunyi menandakan sekarang sudah pukul 12 malam. Sepi meraba malam, kantuk tak kunjung datang, TV berubah fungsi, dia yang menonton tuannya, bukan tuannya yang menonton dia. Pikiran melayang, menembus imajinasi liar untuk membuat sebuah petualangan yang maha dasyat (bagiku) dan disitulah awal sebuah cerita terlahir.

Wednesday, 31 December 2014

[ INSTAGRAM ] 28 DECEMBER TO 31 DECEMBER 2014

Instagram

2 DAN 3 [ Saya tidak menunggu dan menginginkan untuk ujian selanjutnya, tapi saya harus siap untuk itu. Saya tidak bodoh karena saya sudah banyak belajar (ikhlas) dari ujian SEBELUMNYA, makanya ujian hari ini saya bisa senyum. 23 tahun saya sudah belajar, saya pikir itu sudah cukup untuk tidak menjadi bodoh menjawab soal-soal ujian ]

2 AND 3 [ I am not waiting and wishing about the next exams, but I have to be ready for it. I am not foolish, I learned (sincerity) a lot from the LAST exam, thus I could smile for exam today. I have learned about 23 years and I think that's enough to not be foolish in answering the exam questions ]


Wednesday, 17 December 2014

Partikel


"Bagai seorang avatar, dia adalah perajut dan interkoneksi kami semua, setelah kami terhubung dan bergantung satu sama lain, mungkin dia merasa tugasnya sudah selesai dan berfikir jaringan ini akan tetap ada" (delfi's blog)

Memang itu benar, mereka sebuah molekul yang kehilangan satu partikel dan tidak bisa kembali utuh, utuh untuk terlengkapi menjadi sebuah kesatuan yang sempurna. Kehilangan itu membuat partikel lainnya (yang tidak kalah perannya) menjadi rapuh satu sama lain. Togetherness was more than happiness, mungkin kalimat itu memang agak norak, tapi bagi mereka itu keren. Kalimat itu melampaui batas imajinasi kesenangan. Kalimat itu bukti kalau mereka pernah menjadi sekumpulan partikel yang sempurna. Apa jadinya kalau memang kalimat itu pada akhirnya akan menjadi norak untuk digunakan? Bagaimana kalau kalimat itu memang sudah tidak bisa digunakan dimasa berikutnya? Apakah memang sedang terjadi sesuatu? Masih bertanyakah dirinya apa yang sedang terjadi?